Cerita Anak - Yuk Sayangi Ibu Kita

 

Yuk Sayangi Ibu Kita

Yuk Sayangi Ibu Kita

 

"Bismillah

Anak-anak yang Bunda Dinni sayangi, sedang apa? Semoga anak-anakku bahagia semuanya. 

Bunda Dinni mau bercerita lagi, tentang kasih sayang seorang ibu pada anaknya, tapi anaknya malah mendoakan yang tidak baik pada ibunya.

Semoga anak-anak tidak seperti itu ya? Doakan yang terbaik untuk orang tua kita, meski anak-anak merasa kesal dengan ibu atau bapak kita. Jangan seperti Baim yang akan Bunda Dinni ceritakan."

 

Cerita Anak Tentang "Yuk Sayangi Ibu Kita"

Di sebuah Desa yang asri, bernama Desa Suka Damai. Hiduplah keluarga sederhana bernama pak Danu dan ibu Indah mereka mempunyai seorang anak yang bernama Baim Permana, usianya delapan tahun dan duduk di kelas dua SD.

Pak Danu seorang guru di Desanya,  sedangkan Bu Indah  ibu rumah tangga. Sebentar lagi  Baim mau punya adik, karena Bu Indah sedang mengandung, usia kandungannya tujuh bulan.

Baim sangat senang karena Ia akan punya teman di rumah dan tidak  akan kesepian  seperti sekarang.

Setiap hari Bu Indah selalu memantau PR Baim, kalau Baim belum selesai  mengerjakan PR, Ia tidak boleh bermain bersama temannya, kecuali kalau Baim sudah selesai mengerjakan PR.

Baim sering merasa kesal sama Bu Indah, mamahnya. Baim menganggap mamahnya sangat  cerewet. Baim merasa tidak sayang oleh mamahnya  karena Ia tidak boleh main di luar. Sedangkan  Iwan dan Angga  saja tetap main meski mereka tidak mengerjakan PR, karena setiap di sekolah mereka selalu pinjam PR Baim untuk di salin ke buku mereka alias di contek.

Baim sangat kesal sama mamahnya itu, selain disiplin dalam belajar,  setiap hari Baim sering disuruh  belanja di warung Bi Inah. Memang warungnya tidak jauh dari rumah Baim, melewati lima rumah jaraknya dari tempat tinggal Baim.

Teman-teman Baim sering mentertawakan kalau Baim belanja di warung,  beli garam, gula, bawang merah bahkan terasi. Huh mamahnya kalau mau masak sering lupa beli bumbu. Baim merasa malu ditertawakan temannya.

Memang sih berkat bimbingan mamahnya, Baim sering juara kelas, tapi Baim merasa  mamahnya sangat cerewet. Dikit-dikit nyuruh  belajar,  dikit-dikit nyuruh ke warung, Baim merasa jadi anak yang paling menderita.  Awas saja, kalau ada adiknya, Baim tidak mau disuruh-suruh lagi, biar adiknya saja. Baim sering ngomel-ngomel dalam hati.

Menjelang tidur, saking kesal sama mamahnya dan Ia ingin bermain sepak bola  dengan Iwan dan Angga,   tadi siang Baim sudah janji bahwa besok sepulang sekolah Ia akan ikut bertanding sepak bola di lapangan dekat Kelurahan.

Baim berdoa dalam hati, "Ya Allah, hilangkan mamah Baim sehari saja, Baim ingin bebas bermain seperti teman-teman Baim yang lain, aamiin," setelah berdoa Baim tertidur pulas.

Keesokan harinya, Baim bangun kesiangan tidak seperti biasanya Mamah tidak membangunkannya begitupun papahnya. Rumah terasa sepi. Baim memanggil kedua orang tuanya, tidak ada jawaban, di rumah tidak ada orang selain dirinya.

Karena bangun kesiangan Baim bolos sekolah.

Perut Baim terasa lapar, Ia pergi ke dapur dilihatnya di meja makan tidak ada makanan, tidak seperti biasa  mamahnya pergi tanpa menyediakan makanan. Biasanya meja makan terhidang makanan seperti telur  ceplok, tempe goreng, ayam goreng, sop ayam dan banyak lagi aneka masakan yang enak-enak. 

Sekarang yang Baim lihat hanya roti tawar itupun tidak ada selai coklat kesukaannya, akhirnya Baim hanya makan roti tawar tanpa selai coklat. Baim ingin membuat susu, tapi tidak ada air panas, mau merebus air dia tidak bisa. Alhasil Baim hanya bisa duduk sambil menangis.

Baim teringat doa yang Ia ucapkan menjelang tidur, Baim merasa sedih karena doanya, mamah dan papahnya seperti hilang ditelan bumi.

Baim melihat Handphone orang tuanya tertinggal di kamar mereka.

Huhuhuhu berarti mereka benar-benar hilang, Baim kembali menangis, Ia menyesal marah dan berdoa jelek pada mamahnya. Sekarang Ia benar-benar sendirian di rumah, mau keluar rumah Ia merasa malu  karena bolos sekolah.

 

Sampai siang hari mamah dan papahnya belum datang, Baim menahan lapar. Baim tak henti-hentinya berdoa agar Allah mengembalikan mereka padanya, sampai Baim  ketiduran.

Dalam tidur Baim merasa badannya dibopong seseorang, Ia terbangun dan melihat papah sedang membopongnya, Baim langsung berteriak dan menangis,

"Pah, maafin Baim, mamah mana pah?"

"Iya sayang, papah juga minta maaf, ninggalin Baim di rumah, mamah tadi malam terpeleset di kamar mandi dan pendarahan, papah panik langsung bawa mamah ke Rumah Sakit, pas di Rumah Sakit papah baru ingat Baim di rumah sendirian," papah berkata sambil memeluk dan mengusap kepala Baim.

"Pah, semua gara-gara Baim, karena Baim minta pada Allah untuk menghilangkan mamah sehari saja, hiks...hiks... ternyata Allah mengabulkan doa Baim. Baim menyesal pah, Baim ingin ketemu mamah."

Papah mengecup kepala Baim, "Tidak ada yang salah sayang, lain kali berdoa yang baik-baik saja ya sayang, meski Baim sedang kesal ke Mamah."

"Iya pah, Baim janji hiks...hiks...."

Setelah Sholat Ashar, Baim dan Papahnya pergi ke Rumah Sakit Putra Bahagia. Baim melihat mamahnya terbaring lemah, Baim menangis lagi. Ia sangat menyesal dan sedih melihat keadaan mamahnya.

Mamahnya berusaha duduk di atas kasur,  mengusap dan memeluk Baim.

Ternyata akibat terpeleset di kamar mandi mamahnya harus segera di operasi Caesar dan adik Baim lahir sebelum waktunya.

"Nah anak-anak Bunda Dinni dan sahabat setia blog Putri Kaila, hikmah  apa yang bisa diambil dari cerita Bunda Dinni di atas?

Hkmah di balik cerita "Yuk Sayangi Ibu Kita"

1. Yuk kita belajar disiplin

2. Jangan malas membantu orang tua kita  di rumah ya 

3. Belajar mandiri biar tidak tergantung pada orang lain

4. Mengerjakan PR tanpa disuruh

5. Berdoa yang baik-baik, karena kita tidak tau doa mana yang dikabulkan Allah

 

Bunda Dinni ucapkan  terimakasih pada anak-anak yang sudah membaca cerita ini, kita bertemu lagi di cerita yang berbeda, tentunya masih di blog Putri Kaila, blog khusus anak-anak. Terimakasih, dadah, sun jauh dari Bunda Dinni."

 

ADSN1919

10 komentar untuk "Cerita Anak - Yuk Sayangi Ibu Kita"

  1. Inspiratif, terimakasih untuk cerita anaknya, mbak Din..πŸ‘

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Hehehe masih kaku bahasanya 😁😁 harus sering-sering di asah lagi aku nulisnya πŸ™

      Hapus
  3. sangat inspiratif, buhj ... ttg ibu mah duh, meleleh

    BalasHapus
  4. Inspiratif jg contoh yang baik πŸ€πŸ™

    BalasHapus
  5. Bu Dinni pintar banget. He he ....

    BalasHapus

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Template Blogger Terbaik Rekomendasi