Kumpulan Cerpen Anak

Kumpulan Cerpen Anak

Kumpulan Cerpen Anak

Selamat datang di blog khusus anak!

SI TUKANG MIMPI DAN SI TUKANG GAME

Seorang pemuda bertemu dengan seorang bapak tua yang hobinya tidur, si pemuda sangat kesal karena kerjaan si Bapak tua itu tidur melulu.

Memangnya tidak ada hal yang lebih baik! Kok tidur melulu? Apa sih gunanya ? pemuda itu.

Sang bapak tahu bahwa pemuda itu hobinya main game, lalu bapak tua itupun bertanya balik, “lalu, kamu main game gunanya apa ?”.

Si pemuda menjawab, “Loh, itukan hiburan saya bisa mencatata skor kemenangan di situ.”

Jawab si bapak,lalu skornya” ya disimpan saja, hanya untuk hobi saya.”

Bapak itu berkata,”lalu apa bedanya kamu dengan saya?”

“kamu bersenang-sennag dan berimajinasi dengan game mu. Dan saya nikmati tidur dan mimpiku.”

 

BY: ANANDA JUAN AL FARIZ


 

GAMEWATCH ADIKKU

KARYA: AYDIN OKTANDITYA

Hai perkenalkan namuku Aydin Oktanditya, umurku 12 tahun, aku bersekolah di SDN Sunyaragi 2 Aku mempunyai seorang adik perempuan yang bernama Ayesha Andita Putri, ia berumus 5 tahun. Adikku suka sekali bermain bersama teman-temannya , ada viona dan aira, setiap hari mereka selalu berain bersama, kadang akupun ikut bermain bersama mereka, karena mamahku suka menyuruhku untuk menjaga dan menemani adikku bermain di luar rumah. Pada suatu hari mereka bermain bersama, tiba-tiba viona memamerkan mainan barunya.

Viona”hai, lihat aku punya mainan loh”

Yesha da naira “wahhhh, bagus sih mainnya”

Awalnya kulihat mereka bermain bersama tetapi karena mainnya ada satu , mereka berebut untuk memainkannya. Akhirnya ku ajak yesha pulang kerumah untuk membeli mainan sendiri.

Abang “mah, yesha nya nangis”

Mamah”kenan nangis bang?”

Abang”itu yeshanya minta dibeliin gamewatch, kaya punya viona”

Mamah”oooh, nanti minta ke ayah”

Sore harinya yesha masih merengek meminta gamewatch, beberapa saat kemudian ayah pulang yehsa langsung membuka pintu dan berlari menuju ayah.

Yesha “Ayah”

Ayah”iya, kenapa”

Yesha”ayah, beliin aku mainan kaya punya viona”

Ayah”mainan kaya punya viona tuh kaya gimana”

Abang”ituloh yah, mainan gamewatch”

Ayah”oh gamewatch, nanti ayah beliin di toko mainan”

Yesha”besok aja belinya yah”

Ayah”insyaallah……”

Berhari-hari menunggu tapi ayah belum membelinya, karena sibuk bekerja jadi tidak bisa mengantrkan adikku untuk ke toko mainan untuk membeli mainan yang diingikan. Akhirnya, ayahku berinisiatif untuk membelinya di toko online shopee, setelah menunggu 3 hari akhirnya sampai juga paket yang ditunggu kemudian adikku membukanya dengan senang dan gembira.

Abang”dek, paketnya udah sampai tah”

Yesha “iya, aku senang sekali ”

Abang“coba dibuka”

Yesha “wah bagus”

Akhirnya yesha dapat bermain gamewatch bersama-sama dengan gembira dan tidak berebutan mainan lagi.

 

BY: AYDIN OKTANDITYA


 

MEMPERINGATI HARI LINGKUNGAN SEDUNIA

Pada hari sabtu saat itu saya sedang bersantai dirumah sambil menonton tv. Krisna datang kerumahku memberitahu ada tugas dari ibu guru untuk ikut serta dalam kegiatan memperingati Hari Lingkungan Sedunia.

Krisna : “Bangkittttttttttt” memanggil bangkit.

Bangkit : “ ada apa krisna?”

Krisna : “ ini loh, saya diberitahu oleh bu guru bahwa hari minggu nanti akan ada kegiatan memperingati Hari Lingkungan Sedunia, untuk itu saya mengajakmu karna hanya diminta 5 orang laki-laki saja “

Bangkit “oh iyaboleh, nanti aku datang”

Krisna : “ ok, nanti pukul 06.30 kumpul di sekolah ya menggunakan pakaian olahraga”

Bangkit : “ siap, Terima Kasih infonya krisna”

Krisna : “iya sama-sama, kalau begitu aku pulang dulu ya”

Keesokan harinya, Bangkit, Krisna dan teman-teman yang lain sudah berkumpul. Kemudian datang lah Bu Ayu, Ibu Kepala Sekolah, dan Pa Tarsim. Kami mengikuti kegiatan Hari Lingkungan Hidup sedunia ini di Gua Sunyaragi, Acara ini di Hadiri oleh Ibu Wakil Walikota Cirebon. Dalam kegiatan tersebut ternyata kita di ikut sertakan untuk kerja bakti, tetapi kita hanya perwakilan dari beberap SD di kota Cirebon. Disana banyak sekali bapak-bapak dan Ibu-Ibu. Anak-anak hanya ada perwakilan lagi SD Sunyaragi 1&2 saja. Tetapi aku senang sekali mengikuti kegiatan ini.

 

BY: BANGKIT PRAMANA


 

TEMAN YANG BAIK

Rina dan Dini dikenal sebagai sahabat baik yang populer di sekolah. Meskipun berbeda kelas, tapi mereka selalu menghabiskan waktu istirahat bersama. Tidak ada yang meragukan eratnya persahabatan di antara mereka.

 

Meski berbeda karakter, tetap tidak menghalangi kedekatan mereka. Rina merupakan seorang siswi pendiam yang tidak akan populer jika tidak bersama Dini. Sedangkan Dini cenderung seperti seorang pembual yang hobi memamerkan barang-barang milik Rina.

 

Suatu hari pada sebuah acara pengundian hadiah, Rina terpilih menjadi salah satu pemenang. Ia datang bersama Dini. Di sana para pemenang diperbolehkan untuk memilih sendiri hadiah berupa voucher belanja dengan berbagai nominal.

 

Dari lima pemenang terpilih, Rina mendapat giliran keempat untuk mengambil hadiah. Rina melihat pemenang yang akan mengambil hadiah setelahnya, yaitu seorang ibu berpakaian lusuh dengan keempat anaknya yang masih kecil. Ia kemudian melihat voucher yang tersisa.

 

Melihat nominal pada voucher yang tinggal dua pilihan, ia memilih voucher belanja dengan nominal paling rendah kemudian berbalik dan tersenyum pada ibu dan empat anaknya. Hal ini membuat Dini terkejut dan menganggapnya bodoh.

 

Dini kemudian mencoba menguji Rina dengan uang yang ia bawa. Ia meminta Rina untuk mengambil salah satu uang yang ia sodorkan. Sedikit bingung, Rina mengambil uang dengan nominal paling rendah.

 

Keesokan harinya Dini bercerita kepada teman-temannya tentang kebodohan Rina. Untuk membuktikannya, Dini memanggil Rina ke hadapan teman-teman kelasnya.

 

BY : DEWI WULANDARI BUDIMAN

 


 

AYO TAATI PROTOKOL KESEHATAN DAN JAGA KEBERSIHAN

Lani ayo kita mengaji yuk? Ayok Lani. Tunggu ya tunggu sebentar, aku ingin siap-siap terlebih dahulu. Oke baiklah Ina. Ayo Lani aku sudah siap. Tunggu Ina kenapa kamu tidak memakai masker? Loh memangnya kenapa Lani jika aku tidak memakai masker? Ina ini sangat berbahaya sekali jika kamu tidak memakai masker karena sekarang kan sedang ada wabah, yang menular. Yaitu, wabah virus corona atau covid-19 Ina.

Dan sangat berbahaya  sekali jika kamu tertular atau terkena wabah tersebut. Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk menghindari wabah tersebut? Caranya adalah kamu harus melakukan 3m. 3m apa yang dimaksud 3m Lani? Ina 3m adalah singkatan dari memakai masker, mencuci tangandan menjaga jarak.

 Oh ternyata caranya seperti itu. Iya Ina. Dan yang pasti 3m tersebut sudah ditentukan oleh pemerintah. Dan itu sama saja dengan menaati protokol kesehatan. Oke deh aku ambil masker dulu ya. Baiklah Ina. Oh iya, aku baru keingat kalo di ngaji kan suruh pakai masker dan jaga jarak tempat duduknya.

Ngobrolnya sambil jalan saja yuk takut terlambat. Oh iya Lani penyakit virus corona itu menyerang organ tubuh bagian apa? Wabah tersebut menyerang organ pernapasan kalo gejalanya apa saja? Gejaanya adalah demam, flu dan batuk.

Pada saat Ina sedang berjalan Ina melihat di depannya ada sampah yang berserakan di jalanan lantas Ina pun langsung mengambil sampah tersebut dan membuangnya ke dalam tempat sampah. Ina pebuatanmu itu sangatlah benar. Karena kamu sudah menjaga kebersihan.

Pada saat jam istirahat ngaji ada teman Ina dan Lani yang membuang sampah sembarangan. Namanya Irma. Pada saat itu semua orang sedang istirahat. Pada saat itu Ina ada disebelah Irma. Pada saat itu mereka sedang asik mengobrol. Tiba-tiba Irma membuang bungkus makananya di jalan. Lantas Ina yang ada disebelahnyapun menegur Irma. Pada saat itu mereka sedang asik mengobrol.

Tiba-tiba Irma membuang bungkus makananya dijalan. Lantas Ina yang ada disebelahnya pun menegur Irma. Lalu Ina pun bertanya kepada Irma. Irma kenapa kamu membuang bungkus makanan sembarangan? Dan mengapa tidak membuangnya ke tempat sampah? Ina tempat sampah nya jauh jadi aku membuangnya sembarangan. Loh Irma kamu tidak boleh seperti itu kebersihan kan sebagai dari Iman. Iya Ina aku tidak akan mengulanginya kembali.

 

BY: EKA TRI WAHYUNI


 

My friend and my school

Pada saat itu aku yang masih sangat kecil awalnya takut akan masuk sekolah SD tetapi ,aku di yakinkan oleh orang tua ku bahwa disana kamu akan di bimbing oleh guru dan mempunyai banyak teman .semenjak orang tua ku bicara seperti itu aku menjadi tidak sabar untuk memulai sekolah.

Hari masuk sekolah pun tiba disana aku bertemu oleh temanku yang masih sangat kecil pula . Disana kami berkenalan satu sama lain dan kami pun mulai bermain bersama sama . Kami pun di ajari pembelajaran dasar oleh guru kami yang hebat . Hari hari pun kami lalui bersama dengan penuh suka dan duka dari mulai berantem , bercerita bareng ,hingga bermain bareng , kadang kadang kami pun suka jail kepada teman teman kami , kelas 5 pun tiba kami senang sekali karena sebentar lagi kami lulus dan disitu kami berfikir akan menghabiskan waktu akhir disekolah kami bersama , tetapi itu semua tidak bisa dilakukan karna terjadi pandemi covid -19.

Kami sangat sedih karna tidak bisa menghabiskan waktu bersama. Kami semua justru jarang ketemu karna adanya loockdown dan psbb di awal covid ada kami sangat takut makanya kami tidak bisa bertemu . Jika ketemu orang pun kita harus tetap memakai masker dan menjaga jarak terakhir sebelum kami libur pun kami tidak bisa berpelukan dan tos mengucapkan selamat tinggal kami sudah mulai menetapkan 3m awalnya kami mengira hanya libur beberapa Minggu ternyata hingga kami ingin lulus . Dan kami tidak bisa bertemu lagi di sekolah , untuk belajar bareng ,bercerita bareng , membeli makanan bareng , dan bermain bareng . Dan sekarang kami akan lulus , setelah masa masa itu berlewat , dan hari hari berlewat dengan sangat cepat , kami sangat sedih akan pandemi ini.

Kami semua ingin mengucapkan terimakasih atas guru guru semuanya yang mau membimbing kami dengan sabar dan ikhlas . Walaupun terkadang kami sering jahil dan nakal tetapi ibu dan bapak guru selalu baik dan memaafkan kami , dan untuk teman teman kuu jangan lupain cerita ,suka , dan duka yang telah kita buat bersama sampai jumpa di lain kesempatan kawan

 

BY : ELVIRA LARASATI SAGITHA


 

PERSAHABATAN YANG INDAH

Aku dan Hani, aku beruntung mempunyai sahabat yang selalu ada untukku, kami melewati suka duka bersama. Suatu ketika aku dan sahabatku bertengkar karena masalah yang ku anggap sepele, semua itu baru kusadari bahwa sahabatku sangat penting bagiku.

Suatu hari aku pergi ke mall bersama sahabatku, aku menaruhnya membawa belanjaanku dan ternyata belanjaanku yang dibawanya tertinggal. Saat itu juga aku marahi dia dengan perkataan yang kasar karena keegoisaanku .

“Hani, tolong pegang belanjaanku ini ya, soalnya berat banget ”kataku.

“iya, sini aku bantu bawa belanjaanya, takut kamu keberatan ”katanya.

“siap, kamu memang sahabtku yang paling pengertian”jawabku.

“haha iyalah sesama sahabat memang seharusnya saling membantu jawabnya sambil tersenyum sembari berpelukan”

“kamu lapar ngga?” tanyanya.

“lapar si, mulai keruyukan nih perut”jawabku

“makan yu! Sekarang aku yang traktir, aku juga lapar”sambil menatapku dengan lemas.

“hmmm yah sudah ayo”jawabku.

Lalu sampailah kami diwarung seberang mall.

“kamu mau pesen apa hani?”tanyanya.

“aku ngikut kamu deh”jawabku.

“hmmmmmm oke deh”jawabnya

Beberapa menit kemudian kami selesai makan dan mulai berkendaraan untuk pulang.

“eh…. Kayaknya ada yang ketinggalan deh, tapi apa ya?”tanyanya.

Dengan muka yang heran.

“hmmm apa ya ?”aku membantu berpikir.

“oh iya belanjaanku mana?”celetukkku.

“ya ampun, oh iya aku lupa, ketinggalan di warung tempat kita makan tadi”jawabnya dengan rasa bersalah

“apa? Ketinggalan? Yang bener aja, kita kan udah jauh dari warung tempat kitya makan tadi”jawabku dengan kesal.

“Duh, maaf banget ya hani, aku benar-benar lupa”jawabnya dengan berkeringat

“apa?minta maaf?kamu piker dengan meminta maaf membuat barangku kembali dan masalah selesai? Enggak kan? Seenaknya aja kamu minta maaf”jawabku dengan kesal, lalu tanpa basa-basi aku pergi meninggalkannya.

Keesokan harinya, dia datang membawa belanjaanku  dan meminta maaf karena kejadian keamrin, tetapi aku tetap menghiraukannya. Maka setelah beberapa lama, aku sadar bahwa hal yang aku lakukan adalah sebuah kesalahan, dan aku tersadar betapa egoisnya diriku akupun meminta maaf.

BY : FADILLAH NAFIZHA PUTRI


 

RINDU KELUARGA

Hallo teman-teman nama saya Jerry Hanggara Putra. Saya biasa dipanggil Jerry. Saya tinggal di lebu bersama tante saya. Saya lahir di Majalengka. Saya merupakan siswa baru di SD Sunyaragi 2. Mamah dan ayah saya bekerja di Jakarta. Saya Rindu sekali kumpul bersama ayah dan mamah. Tetapi saya tidak boleh egois, mereka juga bekerja disana.

saya berharap nanti bisa berkumpul lagi dengan mereka disini. Akhirnya saya meminta saat lulus kelas SD nanti, saya bisa bersekolah di Jakarta agar bisa berkumpul bersama mereka. Ayah dan mamah mengiyakan rencana saya itu. Semoga saja persyaratannya mudah dan saya bisa berkumpul bersama mamah dan ayah saya.

Setiap hari disni saya menghabiskan waktu untuk belajar, sesekali bermain untuk menghilangkan rasa bosan saya. Masa pandemic ini membuat seluruh aktivitas banyak di lakukan dirumah saja. Sampai-sampai kurang lebih selama setahun ini saya dan teman-teman mengikuti pembelajaran dari rumah saja. Kegiatan itu membuat saya rindu dengan teman-teman karna tidak bisa bertemu dengan mereka semua.

Begitu pun dengan orangtua ku di Jakarta, karna harus mengikuti peraturaan pemerintaaan yaitu untuk yang dari luar kota tidak boleh kemana-mana, saya harus sabar menanti untuk berkumpul bersama mereka. Karna itu juga bagian dari mengurangi resiko penyebaran virus corona, agar segera usai.

 

BY : JERRY HANGGARA PUTRA


 

Mimpi Jovan

Pagi hari disebuah rumah yang sederhana terdapat 3 orang anak yang sedang duduk di ruang tamu. Mereka sudah tinggal sendiri sejak Dhanan (si bungsu) berumur 12 tahun. Jika kalian tanya kemana orang tua mereka, orang tua mereka sudah meninggal karena kecelakaan. Awalnya mereka merasa sangat sedih karena kepergian oramg tuanya, namun sekarang sudah tidak. Mereka sudah dewasa, Dhanan sudah kelas 9 SMP, Adin (anak kedua) sudah kelas 11 SMA, dan Jovan selaku kakak pertama sudah lulus sejak 2 tahun lalu. Awalnya Jovan ingin lanjut kuliah sejak lulus SMA, namun karna ada keterbatasan uang yang ia miliki, ia kebih memilih untuk membuka Cafe kecil di samping rumahnya. Orang orang menyebut itu warung, tapi Dhanan dan Adin menyebutnya Cafe kecil.

Awalnya suasana di ruang tamu itu sangat hening. Hanya ada suara goresan antara pulpen dan buku karena Adin dan Dhanan sedang mengerjakan tugas sekolahnya. Namun tiba tiba Jovan memulai pembicaraan.

“tugasnya udah belum, ada yang susah gak?” tanya Jovan tiba-tiba.

“gak ada kok bang” jawab Adin dan Dhanan bersamaan.

“oh ya bang, abang kapan mau buka cafe di toko yang waktu itu pernah kita rencanain beli pas abang udah lulus” tanya Dhanan tiba-tiba.

Setelah Dhanan bertanya seperti itu tiba-tiba Jovan teringat moment saat dia berbicara pada orang tuanya bahwa ia sangat ingin membuka Cafe besar. Tentunya orang tua Jovan sangat senang karena anaknya mempunyai mimpi besar seperti itu, lalu mereka berjanji pada Jovan bahwa nanti jika mereka mempunyai uang lebih, uang itu akan di gunakan untuk membeli toko dan menyerahkannya pada Jovan.

“insya Allah secepatnya, doa in aja ya semoga uangnya bisa cepat terkumpul dan abang bisa beli cafe itu” jawab Jovan sambil tersenyum.

Setelah itu Dhanan hanya ber-oh kecil saja.

---

Sudah 1 tahun sejak Dhanan bertanya seperti itu kepada Jovan, dan kini Dhanan sudah lulus SMP. Cafe Jovan juga beberapa bulan terakhir ini terlihat sangat ramai, karena kopinya enak dan kebetulan juga rumah sekaligus Cafe Jovan terletak di pinggir jalan persis.

“dek, insya Allah lusa abang mau beli toko yang waktu itu pernah rencanain untuk kita beli” ucap Jovan tiba-tiba.

Adin dan Dhanan yang sedang melihat pemandangan jalan raya dari depan cafe terlihat sedikit terkejud.

“loh bang serius?” tanya Dhanan kaget.

“beneran bang? Tapi nanti kalo cafenya gak rame dan malah rugi gimana?” sambung Adin tiba-tiba sambil meminum minuman yang ada di tangannya.

“setiap kali kita melangkah dengan berani untuk membuat perubahan, kita mengambil resiko bahwa mungkin kita gagal. Tetapi, satu satunya cara untuk menjadi lebih baik adalah dengan mencobanya” jawab Jovan dengan bijak.

Adin dan Dhanan hanya membalas kata kata Jovan dengan senyuman.

---

Pagi-pagi Jovan sudah sibuk di Cafe barunya. Cafe nya ramai, sampai sampai Jovan sampai mengajak 5 temannya untuk bekerja di Cafenya. Jika ditanya kenapa tidak Adin dan Dhanan saja yang membantu Jovan di Cafe, tentu jawabannya karena mereka masih sekolah. Terutama Adin, dia sedang sibuk ujian karena sebentar lagi dia akan lulus.

Cafe Jovan buka sampai malam, dan tentunya Cafe itu semakin malam semakin terlihat sangat ramai, bahkan sekarang dia sudah mampu membeli mobil juga rumah yang lebih besar dan mewah dari rumahnya dulu. Jovan juga berencana akan melanjutkan kuliah nya bersama Adin nanti, dan dia akan menitipkan Cafenya kepada orang yang ia percayai sekiranya dapat menghandle Cafe tersebut dengan baik.

---

Hari ini hari minggu, dan tentu saja Adin dan Dhanan libur. Jovan berencana akan membawa kedua adiknya pergi kr Cafe agar mereka tidak bosan berdua saja dirumah.

Jovan, Adin dan Dhanan berangkat naik mobil. Jovan yang menyetir dan kedua adiknya hanya bermain main di bangku tengah. Kini Jovan sudah samoai di Cafenya dan segera memarkirkan mobilnya itu lalu turun dari mobil.

Adin dan Dhana sudah lari masuk kedalam Cafe dan membantu pegawai pegawai disana bekerja. Sementara Jovan masih berjalan santai menuju Cafe, lalu tiba-tiba dia berhentin tepat di depam pintu Cafe yang sudah jelas diatasnya ada tulisan yang bertuliskan “DREAMER 3’s CAFE”.

“keberhasilan manusia ditentukan oleh dirinya sendiri. Dengan keberanian yang tinggi dan pilihan yang benar maka dia akan bersinar dengan sendirinya” ucap Jovan pelan lalu ia tersenyum dan segera masuk kedalam Cafe.

-END-

 

By : Jihan Asillah

 

 


Pesan Kebaikan Bunda

Hai, assalamualaikum nama saya Febi Anggrani biasa di panggil Febi. Umurku 11 tahun dan aku tinggal di Jakarta bersama Ayah, Bunda dan Adekku.

Bunda :”Febi, Ayo bangun nak  rapikan tempat tidur, wudhu, shalat shubuh ”

Aku :”iya bunda Febi sudah bangun ”

Ayah :”Febi ayo turun sarapan bareng”

Aku :”Selamat pagi semua, mari berdoa sebelum makan ”

Kami pun sarapan bersama

Setelah berpamitan dengan bunda aku berangkat ke sekolah, Hari ini aku diantar ke sekolah.

Aku :”Ayah, Febi masuk kelas dulu ya.. sambil berpamitan dengan ayah”

Ayah :”Iya.. Febi belajar yang rajin yah”

Kelas hari ini dimulai. Kami mengikuti pelajaran yang ibu berikan jam istirahat berbunyi tetttttt!!!!

Aku :”Aku saatnya makan”

Mia :”AAAAhhhhhhh… LOh kok gaada dimana-mana?”

Aku :”Mia kenapa kamu terlihat bingung?”

Mia :”Aku  tidak membawa bekal , lalu uang sakuku tertinggal di rumah, gimana nih?”

Aku :”ooohhhh jadi begitu, jangan khawatir Mia…Bundaku membawakan aku bekal yang lumayan banyak, ayo kita makan bersama”

Mia :” oooohhhhhh……..Terima kasih  kamu baik sekali”

Aku :”Ah kamu bisa saja, ayo kita makan”

Selesai pulang sekolah aku menunggu bunda yang akan menjemputku di depan kios ketika itu aku melihat seorang nenek yang sedang kebingungan.

Aku ;”Nek, nenek terlihat bingung. Ada yang bisa bantu?”

Nenek :”Iya nak, nenek mau pergi ke rumahanak nenek. Tapi nenek bingung mencari alamatnya.”

Aku :”baik nek, saya akan antarkan nenek ya ke bapak polisi lalu lintas untuk menanyakan arah jalan”

Aku :”itu dia nek, pak polisinya”

Aku :”selamat siang pak”

Pak polisi :”selamat siang adek, ada yang bisa saya bantu”

Aku :”saya mengantarkan nenek ini, beliau kebingungan mencari alamat anaknya”

Polisi :”alamat ini tidak jauh dari sini”

Jangan khawatir kami akan mengantr nenek sampai ke tempat anak nenek

Nenek :”Terima kasih pak polisi dan juga adek yang sudah membantu saya!!”

Bunda :”Febi”

Aku :”Bunda, Febi pulang dulu ya nenek. Itu bunda sudah datang menjemput Febi”

Sampai rumah, aku menceritakan pengalaman hari itu pada Bunda.

Bunda :”bagus Febi, bunda bangga padamu sebagai manusia kita harus saling tolong menolong.”

Febi :”baik bun, Febi akan selalu ingat nasihat bunda”

Bunda :”baiklah, ayo ganti bajumu makan siang, lalu segera sholat”

Aku :”baik bun, setelah sholat bolehkan Febi main kerumah Rina?”

Bunda :”Tentu saja boleh………..”

 

 

BY : NAJWA NURHASANAH

 

 

 

 

Gelang Persahabatan

 Putri memakai sepatunya dengan malas. Kalau bisa, selama seminggu ini ia bolos sekolah saja. Namun, Bunda pasti akan marah. Ulangan tengah semester telah selesai. Minggu ini, di sekolah sedang beriangsung pekan olahraga.

 

“Sudah siang, Putri. Ayo lekas, nanti terlambat,”tegur Bunda.

 

“Enggak belajar kok, Bunda. Lagi pekan olahraga.”

 

“O iya, kamu ikut olahraga apa, Putri?”tanya Bunda.

 

“Aku dimasukkan ke tim lari estafet oleh Pak Guru. Satu tim dengan Tikah,”suara Putri terdengar pelan.

 

“Bagus, dong! Lari kalian, kan, memang cepat. Tapi, kenapa kamu seperti tidak semangat? Ada apa?” Bunda menyelidik,

 

 Putri menunduk. Menggeleng

 

. “Putri?” Bunda tidak suka dengan gelengan kepala Putri.

 

“Putri tidak mau satu tim dengan Tikah,”ucap Putri.

 

“Putri mau satu tim dengan Sabil saja.Tapi, Pak guru bilang tidak bisa ditukar.

 

” “Bukankah seharusnya kamu senang. Kalian, kan, bersahabat.

 

” Tidak lagi, jawab Putri dalam hati.

 

 Merekabertengkar gara-gara Putri tidak mau memberikan contekan Matematika saat ujian tengah semester kemarin. Sampai hari ini mereka belum bicara dan bercanda lagi. Kalau berpapasan di koridor sekolah, Putri dan Tikah pura-pura tidak melihat. Di dalam kelas pun mereka seperti tidak saling mengenal.

 

Putri tidak mau minta maaf duluan. Seperti kejadian waktu buku PR Tikah tersiram air. Doni yang menumpahkan langsung melarikan diri. Karena memang hanya Putri yang duduk di sana, Tikah langsung menyalahkannya. Sementara ia tidak sempat membela diri.

 

 Sebagai tanda permintaan maaf, Putri membuat gelang yang ia buat sendiri. Warnanya biru. Satu untuknya dan satu untuk Tikah. Waktu memakai gelang itu, mereka berjanji untuk tidak musuhan lagi. Putri melirik pergelangan tangannya. Gelang biru tanda persahabatan itu sudah ia lepas dari kemarin. Putri juga melihat Tikah tidak memakainya lagi. Mereka benar-benar tidak lagi sahabatan sekarang.

 

BY : KEYSA NINDYA AZAHRA

 

  SEMUT DAN BELALANG

Diakhir musim gugur satu keluarga semut yang telah bekerja keras sepanjang musim panas untuk mengumpulkan makanan, mengeringkan butiran-butiran gandum yang telah mereka kumpulkan selama musim panas. Saat itu seekor belalang yang kelaparan dengan sebuah biola ditangannya datang dan memohon dengan sangat agar keluarga semut itu memberikan sedikit makanan untuk dirinya.

Apa! Teriak sang semut dengan terkejut, tidakkah kamu telah mengumpulkan dan menyiapkan makanan untuk musim dingin yang akan datang ini? Selama ini apa saja yang kamu lakukan sepanjang musim panas ?

Saya tidak mempunyai waktu untuk mengumpulkan makanan, keluh sang belalang.

Saya sangat sibuk membuat lagu dan sebelum saya sadari musim panas pun. Telah berlalu, semut tersebut kemudian mengangkat bahunya karena merasa gusar.

Membuat lagu katamu ya ? Kata sang semut: “baiklah sekarang setelah lagu tersebut telah kamu selesaikan pada musim panas, sekarang saatnya kamu menari!” Kemudian Semut-semut tersebut membalikkan badan dan melanjutkan pekerjaan mereka tanpa memperdulikan sang belalang lagi.

Ada saatnya untuk bekerja dan ada saatnya bermain.

 

 

BY : KEVIN HAFIDZH AFANDI JULIO


 

KERJA BAKTI

Pada hari Minggu di daerah tempat tinggal saya mengadakan kerja bakti membersihkan, merapikan dan memasang tenda di lapangan mushola serta halaman mushola karena sebentar lagi umat muslim akan memasuki bulan suci ramadhan. Sebelum melakukan kerja bakti, seminggu sebelumnya warga sunyaragi, karang baru Rt. 03 bermusyawarah untuk membahas tentang kerja bakti membersihkan merapikan Mushola Al-Ikhlas dan sekitarnya serta memasang tenda di halaman samping mushola untuk sholat tarawih.

Warga antusias dan saling bergotong royong melakukan kerja bakti, ayah dan saya pun ikut kerja bakti, para bapa-bapa ada yang membetulkan saluran air, ada yang menyapu, mengepel serta membersihkan tempat dan sampah yang ada di halaman mushola serta ada pula yang membuat tenda, saya dan teman-teman ikut menyapu halaman mushola dan mengelap kaca mushola seangkan yang lain ada yang mengosek tempat wudhu, ada yang merapikan al-quran.

Sedangkan para ibu-ibu menyiapkan air minum, makan dan cemilan. Mamahku yang dari pagi sudah membuat gorengan untuk cemilan, mamah di bantu Mba Atun tetangga sebelah rumah membuat roket, ubi goring, pisang goring dan lainnya. Setelah selesai membuat gorengan ibu ikut bergabung dengan ibu-ibu  yang lain untuk ikut memasak dirumah bu RW untuk makan siang Bapak/Ibu warga yang  ikut kerja bakti. Alhamdulillah semua warga pada antusias bahkan banyak warga / ibu-ibu yang memberi makanan untuk semua warga yang kerja bakti.

Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 12.00 saatnya untuk umat muslim menunaikan Ibadah Sholat Dzhur, warga segera bergegas menghentikan /menunda sementara kerja bakti dan membersihkan badan serta bergegas berwudhu untuk menunaikan sholat dzhur secara berjamaah di musholla.

Setelah sholat dzhur selesai para ibu mempersilahkan warga untuk makan siang, setelah makan siang selesai, warga melajutkan kerja bakti, tidak terasa pukul 14.00 kerja bakti selesai, dan warga pun satu persatu pulang kerumah masing-masing, saya dan kawan yang lain pun ikut pulang, terkecuali ayah dan beberapa warga masih mengobrol dengan Pa RT dan Pa Rw.

 

 

BY : KRISNA HARDI


 

BERLIBUR KE JAKARTA

Pada suatu hari aku dan kelauragaku pergi ke Jakarta, kami memakai kereta api sebagai transportasinya dan setelah sampai ke Monas aku bersama keluargaku berkeliling ke Monas disana ada Monumen Pancasila di dalam Monumen Pancasila itu terdapat miniature tentang masa perjuangan penjajahan revolusi. Aku banyak di ceritakan masa-masa penjahan dulu, ternyata pada masa itu para pahlawan benar-benar berjuang untuk Negara Indonesia .

Pada jaman dahulu disitu diceritakan betapa gigihnya para pahlawan memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia para pahlawan mengorbankan jiwa dan raganya untuk kemerdekaan Indonesia kita sebagai penerus bangsa ini harus menghargai pengorbanan para pahlawan dalam memederkakan bangsa ini, setelah selesai melihat museum Monumen Pancasila kami menuju keatas dengan menggunakan lift.

Setelah itu kami melihat tugu monas yang dilapisi emas yang di rancang oleh presiden pertama kita yaitu soekarno dan di monas aku bersama keluargaku senang bisa berkeliling ke monas. Kemudian setelah berkunjung ke Monas akhirnya kami melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Cirebon. Dalam perjalana ini aku sangat senang dan menikmati suasana di dalam kereta yang sangat hening, tetapi sesekali aku bersenda gurau dengan keluargaku. Aku Sangat Senang Sekaliiiiiiii…

 

BY : MAWAR INDAH


 

BERSEPEDAH DI MASA PANDEMI COVID19

Pandemic covid-19 adalah sebuah pandemic yang terjadi pada awal Akhir tahun 2019. Akan tetapi kasus pertama terjadi di Indonesia yaitu pada Bulan Maret 2020 hingga saat ini. Selama masa pandemic masyarakat banyak melakukan aktivitas dirumah saja, karna untuk mengurangi resiko penularan virus corona.

Akan tetapi pemerintah juga menganjurkan selama masyrakat dirumah saja untuk tetap melakukan olahraga, berjemur, bekerja dari rumah, dll. Tetapi tetap dengan menaati protokol kesehatan. Awalnya masyrakat merasa resah dan belum terbiasa dengan situasi saat ini. Kemudian karna ingin bisa melakukan aktivitas seperti biasa dan bisa keluar rumah, bermunculan lah kegiatan bersepeda dimasa pandemic ini.

Karna bersepeda juga merupakan kegiatan berolaharaga, selain itu bersepeda juga bisa menghilangkan kejenuhan selama dirumah saja. Olharaga di masa pandemic mengharuskan orang yang melaksanakannya tetap menaati protokol kesehatan yang ada, seperti menggunakan masker dan menjaga jagarak.

Salah satu olharaga yang cukup menjaga jarak dengan orang lain yaitu “Bersepeda” karena bersepeda adalah aktivitas yang tidak berdiam diri di suatu tempat dengan waktu yang lama, sehingga kemungkinan terpapar covid-19 kecil. Hal ini juga menyebabkan bersepeda menjadi kegiatan favorit di masa pandemic.

 

BY : NATASYA MELINDA


 

Papaku Malaikatku

Dulu sebelum aku ikut dengan papaku,

Aku sering menangis sendirian.

Karena selalu ingat papaku,

Aku tidak betah tinggal disana,

Karena maunya tinggal dengan papa.

Setiap hari aku selalu berdoa kepada Allah SWT.

Semoga aku dam adikku bisa ikut dengan papa,

bisa tinggal dengan papa,

karena dari kecil aku dan adikku sangat dekat dengan papa.

Ternyata doaku dikabulkan oleh Allah SWT.

Aku dan adikku sekarang tinggal sama papa.

Sejak ikut papa aku langsung diajarkan banyak hal.

Masak nasi, bikin sayur, godog air, nyuci piring, puasa senin-kamis,

wajib berhijab,sholat sunnah.

Kata papaku, pribadi ku harus dibentuk dari sekarang.

Supaya kelak nanti aku bisa menjadi pribadi yang mandiri,

sholehah, pandai masak, dan menjadi orang yang benar.

Kata papaku banyak orang baik tapi belum tentu benar,

tapi kalau orang benar sudah pasti baik.

Itulah papaku yang sangat aku sayangi. Papaku bagiku seperti Malaikatku. 

 

BY : NAYU RATIH TONDO YULISNO


 

Cerita Sahabat

Setiap manusia pasti punya cerita yang berbeda mengenai kehidupannya disetiap lingkungannya pasti ada suka dan duka. Seiring berjalannya waktu, manusia melewati banyak masa dan bertemu berbagai macam karakter manusia lainnya. Ada yang sejalan dengan hati dan pikiran , ada pula yang tidak.

Begitu pula saya kali ini akan menceritakan mengenai sahabat saya yang tak akan saya lupakan yaitu Raffellino Mahesa dan Ahmad Rif’an Nafish.

Mereka adalah sahabat saya dari kecil, pertama saya kenal dengan Raffellino Mahesa. Pada saat itu saya masih kelas 6 SD kebetulan teman saya sering membicarakan seorang teman seumuran yang dari kelas 1 SD sampai Kelas 6 SD yaitu Raffellino Mahesa, kami berbeda SD karna Raffle merupakan murida baru di sekolahku.

Karena saya penasaran akhirnya saya berkenalan dengan dia dan bermain bola, tak sangka Raffle jago bermain bola, juga pintar dalam pembelajaran di sekolah. Akhirnya, saya sering bertanya pada Raffel, tetapi saat itu saya belum terlalu dekat dengannya  hanya sekedar kenal di lapangan bola saja.

Setelah lulus SD saya ingin melanjutkan ke SMP yang terletak lumayan jauh dari rumah, saya berharap ketika di SMP nanti, saya akan mendapatkan sahabat seperti Nafish dan Raffel.

 

BY : NURDIN AL AKBAR


 

Indahnya Berbagi

Pagi itu aku sedang duduk dengan bersandar pada sandaran kursi. Sebagai orang, hari Minggu adalah hari yang cocok untuk bermalas-malasan. Tetapi, tidak untukku. Di hari minggu ini aku sibuk membantu pekerjaan ibu. Dimulai dari mencuci piring, menyapu halaman, dan melipat baju. Semua pekerjaan itu telah selesai aku kerjakan. Dan saat ini aku sedang duduk santai sambil menonton film di laptop dengan secangkir the hangat dalam gengaman tanganku.

Sesekali ku lihat handphone ku yang berkelip-kelip, tanda ada pesan masuk. Lalu, akupun mengambil handphone dengan casing bewarna pink, ternyata ada pesan masuk dari sahabat baikku, Riffa.

“Kamu sibuk tidak? Aku ingin bertemu denganmu.  Bagaimana jika kita bertemu di mall sehabis sholat dzhur?” Kira-kira begitulah isi pesan tersebut.

Aku melihat jam dinding yang tidak jauh dari tempat duduku. Baru pukul Sembilan. Masih tiga jam lagi untuk mencapai pukul dua belas. Kurasa itu masih banyak waktu lagi pula semua pekerjaan rumah sudah tak lagi menumpuk.

Akhirnya dengan lincah jari-jari tangan ku mengetik sebuah balasan, bahwa aku menyetujui ajakan sahabatku.

Sejenak aku memikirkan kegiatan apa yang aku lakukan selama menunggu waktu. Ahhhh……aku kembali teringat dengan laptop yang menampilkan beberapa kalimat yang aku ketika sebelum menerima pesan. Akan lebih baik jika waktu tiga jam tersebut aku habiskan untuk melanjutkan hobiku ini.

Tidak tau sejak kapan aku mendalami hobiku ini menulis. Aku tidak ingat, yang jelas saat ini aku lebih sering menghabiskan waktu luang dengan menulis. Aku jarang sekali menghabiskan waktu luang diluar rumah. Aku lebih suka bersantai dengan secangkir teh sambil mengolah imajinasi untuk menciptakan sebuah karya fiksi.

Aku termenung sendiri. Namun, pandanganku tak focus pada laptop itu. Tempatku terbiasa duduk dan mengetik suatu tepat dihadapan jendela rumahku yang bertemu langsung dengan dunia luar. Dunia dimana orang berlalu-lalang di pinggir jalan. Rupanya orang-orang itu sedang tidak menampakkan batang hidungnya, dan aku kembali termenung memandang daun-daun pohon jambu yang lambai-lambai dibelai angin.

Ada satu daun yang terjatuh. Daun kering yang terlihat sudah rapuh. Hanya dengan satu terpaan angina mampu membuatnya terjatuh. Entah mengapa aku ingat dengan kisah sebuah novel yang ditulis oleh Tere Liye dengan judul “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” sama halnya dengan kehidupan terkadang takdir memaksakan kita terjatuh dari ketinggian. Takdir yang merasakan keterpurukan. Tetapi, bukan itu intinya. Ketegaran dan rasa percaya terhadap sang pencipta bahwa dibalik peristiwa, pasti ada hikmahnya. Itulah yang membuat daun tak membenci angin.

Sebuah bayangan menari-nari dipikiran. Aku baru saja menemukan sebuah tema untuk aku tuangkan dalam tulisan. Inspirasi datang saat yang tidak disangka-sangka dengan jari-jariku lincah mengetik diatas tombol keyboard.

Entahlah, aku tidak ingat sudah menghabiskan waktu berapa lama untuk menulis yang pasti sahabatku kembali mengirim pesan, mengingatkanku untuk jsiap-siap berangkat. Sebelum mematikan laptop tidak lupa aku menyimpan tulisanku dalam folder.

Tak butuh banyak waktu untuk aku pun mempersiapkan diri. Kebetulan waktu itu aku sedang berhalangan dan aku tidak melaksanakan kewajibanku menunaikan ibadah shalat dzuhur. Aku hanya membasuh wajahku.

Karena belum makan siang, sebelum menuju ke mall aku mampir ke warung depan rumahku. Aku disambut dengan senyuman yang terpanjang di wajah sang nenek pemilik warung itu.

“Mau beli apa nak?”Tanya sang nenek.

Aku menjawab “dua buah roti”

Dan nenek itu memasukkan tiga buah roti dalam kantong kresek. Aku bingung, karena aku hanya membeli dua, tetapi kenapa nenek memasukkan tiga ?

“Roti yang satunya ambil saja. Cukup membayar dua roti saja”

Katanya. Aku pun tersenyum lebar

“Terima Kasih ”ujarku. “ya nak” tuturnya.

Setelah itu aku menuju pertigaan yang terdapat beberapa angkutan umum. Rupanya dewi fortuna sedang berada tak jauh dariku. Akupun masuk kedalam angkutan umum itu dan duduk dengan tenang. Ditengah perjalanan, angkutan umum itu berhenti karna ada penumpang yang hendak naik.

Selang beberapa menit, penumpang itu memberhentikan angkutan umum. Ia hendak memberi biaya ongkos pada sang supir, namum di tolak halus oleh supir tersebut. Aku merasa bertemu dua orang hebat hari ini.

Singkat cerita, aku telah sampai di sebuah mall. Tak perlu waktu lama karena gadis cantik seusiaku melambaikan tangan akupun melambaikan tangan, Riffa berjalan kearahku.

“Kau sudah menunggu lama ?tanyaku“ia menggeleng” Tidak.”

 

 “Tumben kau mengajkku ke mall. Apa ada susuatu yang ingin kau beli?”

“ya, aku ingin membeli sebuah jam tangan untuk ulang tahun ibuku. Jam tangannya sudah rusak”

Kita pun berjalan bersama menuju pintu masuk. Namu langkah Riffa berhenti kala ia melihat pengemis tua. Sebelah tangan Riffa mencari-cari sesuatu dalam saku celananya. Selembar uang lima ribuan. Lalu Riffa, memberikan uang tersebut.

“Terima Kasih, nak. Semoga amal ibadahmu diterima oleh Allah SWT dan senantiasa dilindungi oleh-Nya dari segala marabahaya” kata pengemis tua itu.

“Hari ini aku bertemu tiga orang yang gemar berbai. Menakjubkan.” Ujarku saat aku dan Riffa kembali menuju pintu masuk.

“Benarkah?”tanyanya seolah percaya, “ya”jawabku.

“Nih, berbagi itu perbuatan baik. Jangan menunggu waktu yang tepat untuk berbuat baik. “ Katanya ”Kenapa?” tanyaku seperti orang bodoh. Ia tertawa kecil . “ Yaeh……., intinya jangan menunggu waktu, karena waktu bisa berhenti kapan saja.”

Aku takjub mendengarnya. Riffa benar-benar sahabtku yang luar biasa. Aku berpikir, dihari yang sama aku melihat tiga orang yang berbagi untuk sesama itu membuktikan bahwa Allah sedang memperingatkanku untuk segera mungkin berbuat baik dan berbagi sebagian rezeki sebelum waktu berhenti.

SELESAI.

 

 

BY : NURHASANAH PUTRI HANDAYANI


 

KULIT PISANG

 

Putri dan Nabila, sepasang sahabat yang bisa di bilang jarang akur. Mereka memiliki sifat yang berbeda. Putri yang tidak peduli dengan kebersihan dan Nabila yang sangat peduli dengan kebersihan itu pun memutuskan untuk menjalin pertemanan. Perbedaan itulah yang mengakibatkan mereka berteman. 'Saling melengkapi' itu yang membuat mereka yakin untuk menjalin pertemanan. Walaupun mereka jarang akur, tetapi pertemanan itu sudah berjalan hampir 6 tahun. Dan hampir 6 tahun juga Nabila tidak lelah mengingatkan Putri untuk membuang sampah pada tempatnya. Walau Nabila sering kali mengingatkan Putri untuk membuang sampah pada tempatnya, namun Putri selalu saja mengabaikan perkataan sahabat nya itu. Di sebuah minggu yang cerah, mereka memutuskan akan bermain di rumah Putri.

"Assalamu'alaikum permisi" Salam Nabila di depan gerbang berwarna putih milik Putri

"Waalaikumsalam tunggu sebentar" Ucap seseorang dari dalam rumah setengah berteriak.

"Eh nak Nabila. Ingin bertemu Putri ya?" Ucap wanita memakai baju daster bermotif batik dengan ramah.

"Iya tante. Putri nya ada?" Ucap Nabila tak kalah ramah

"Putri ada di kamar. Ayo masuk nak Nabila" Ucap tante rahma, ibu Putri

"Iya tante terimakasih"

"Nak Nabila duduk dulu ya. Tante panggilkan Putri nya sebentar"

"Iya tante" Ujar Nabila sembari menduduki sofa panjang berwarna coklat yang di padukan dengan warna hitam.

"Akhirnya kau datang juga" Ucap wanita berambut ikal berwarna coklat gelap sembari menuruni tangga

"Hehe maaf. Tadi ban sepeda ku kempes. Jadi harus di tambal dulu deh. Maaf ya sudah menunggu lama" Ujar Nabila kepada wanita berambut ikal tersebut.

"Tak apa. Oh ya kau ingin meminum apa? Biar ku ambil di dapur" Tanya Putri, wanita berambut ikal berwarna coklat gelap, sahabat Nabila

"Emmm. Jus semangka saja deh" Jawab Nabila

"Di rumah ku tidak ada semangka Nabila"

"Ya sudah kalau begitu aku ingin es teh manis"

"Teh di rumah ku sedang habis. Adanya air mineral, mau?"

"Ck. Kalau cuma ada itu kenapa kau bertanya wahai nona Putri yang cantik nan jelita?" Ucap Nabila yang sudah kesal

"Hehe maaf. Ya sudah tunggu sebentar. Aku ambilkan dulu air mineral nya"

"Silahkan di minum Nona Nabila" Ucap Putri sembari menaruh air mineral tersebut ke meja

"Oke terimakasih pelayan ku"

"Haha mau ku usir hah? " Ucap Putri tertawa

"Hahaha"

"Eh ke kamar ku yuk" Ajak Putri

"Okey"

Saat sampai di depan pintu bercat putih yang bertuliskan 'kamar Putri yang cantik', Nabila sudah berprasangka buruk kalau kamar Putri kotor.

" Ayo kita masuk"

Kreeek

"Astaga Putri, kamar mu kotor sekali!"

"Ck. Sudah lah. Peduli sekali kau terhadap kamar ku."

"Hah Putri, sudah berapa kali aku bilang, buang sampah pada tempatnya dan bersihkan kamar mu ini"

"Sudah lah Nabila, mengapa kau sangat peduli dengan kamarku? Toh ini kamar ku bukan kamarmu"

"Tidak taulah Putri. Aku lelah mengingatkan mu"

"Ya sudah bagus"

Mereka pun duduk di kasur Putri yang di penuhi oleh sampah plastik jajanan. Mereka berdua pun bermain di atas kasur. Entah itu bermain uno, menonton film di tv, atau melakukan hal hal yang menarik lainnya.

"Mau kemana kau? " Tanya Putri saat melihat Nabila berdiri dari duduknya

"Ke kamar mandi" Jawab Nabila

"Oke"

Bruuk!

"Aduh"

"Kau kenapa Nabila!?" Panik Putri

"Awh sakit" Ucap Nabila

"Mengapa bisa seperti ini Nabila?!" Tanya Putri

"T-tadi aku terpeleset oleh kulit pisang" Jawab Nabila

"Astaga! Maaf kan aku Nabila" Ucap Putri menyesal

"Ayo kita ke kasur" Ucap Putri sembari membantu Nabila berjalan ke arah kasur

"Maafkan aku sekali lagi Nabila. Aku menyesal" Ucap Putri menyesal

"Kan sudah aku bilang. Buang lah sampah pada tempatnya. Kan jadi gini akibatnya" Ucap Nabila menahan rasa sakit

"Hiks aku menyesal. Pasti sakit kan? Aku bawa kau ke rumah sakit ya?" Ujar Putri yang sangat sangat menyesal

"Tak usah. Memang sakit sih. Tapi tak apa" Ucap Nabila sembari tersenyum.

"Aku tidak mau ya ada korban lagi oleh ketidak pedulian mu terhadap kebersihan. Hanya aku saja yang menjadi korban mu. Jadi, mulai sekarang aku ingin kau peduli terhadap lingkungan! Oke?" Ucap Nabila

"Oke Nabila. Aku akan menjadi seperti mu mulai sekarang. Aku baru sadar, ketidak pedulian aku terhadap kebersihan ini akan mencelakai orang orang di sekitarku. Maaf sekali lagi ya Nabila" Ucap Putri sembari memeluk sahabat baik nya itu.

"Bukan hanya mencelakai orang orang di sekitar mu saja. Tapi juga bisa mencelakai dirimu sendiri. Janji ya ksu akan peduli terhadap kebersihan? " Ucap Nabila sembari tersenyum

"Iya aku janji" Ucap Putri yang juga tersenyum

 

 

TAMAT

 

BY : RIFFA MAZIYYATUL MAULA


 

ARTI SEBUAH PERSAHABATAN

Pada suatu hari dirumah yang tampak mungil sederhana nan elok. Hiduplah seorang ibu dan anak yang sangat bahagia, si anak bernama Fauzi. Fauzi hanya mempunyai seorang yang sayang sekali terhdapnya. Fauzi seorang anak yatim, ayahnya telah meninggalkan 1 tahun yang lalu dikarenakan sakit keras.

Karena keterbatasan biaya pengobatan sang ayah tidak bisa dirawat dirumah sakit. Untuk menghidupinya sang ibu bekerja keras, paginya ia berjualan keliling komplek lalu malam harinya sang ibu menjadi tukang setrika dirumahnya dengan mengambil baju dari para tetangga yang membutuhkan jasanya.

Meskipun keadaan fauzi seperti itu, fauzi tidak pernah malu untuk berteman dengan teman-temannya di sekolah karena dia termasuk anak sholeh, cerdas dan periang. Di sekolah fauzi selalu mendapatkan prestasi beasiswa, semua teman-temannya sangat sayang padanya. Namun, fauzi mempunyai teman yang sangat dekat bernama  syamil, sampai-sampai ibu guru di sekolah sennag berkata dimana ada fauzi pasti ada syamil.

Kehidupan syamil sangat berbeda dengan fauzi, syamil berasal dari keluarga yang kaya raya, ayah dan bundanya seorang penguasaha yang sukses, namun latar belakangnya tidak membuat syamil menjadi anak yang sombong. Syamil sangat senang bermain dengan sahabatanya fauzi.

Disekolah mereka duduk satu baris, mereka berdua sangat senang belajar bersama saling tukar pikiran, jika ada pekerjaan rumah dari ibu gurunya.

 

 

BY: SYIFA NISWATULHUSNA


 

SI GEMBLONG

Hai, aku anarcia Gisela Monaliqua Songray. Mungkin kalian agak heran dengan nama belakang ku bukan? Begitu juga aku. Aku sangat terheran-heran, mengapa kedua orang tuaku menyertakan nama aneh itu di belakang namaku. Setiap kali aku bertanya alasannya kenapa, mereka hanya berkata itu nama yang pas untukmu. Dan percuma saja, mereka memberikan nama indah itu untukku karena pasti ujung-ujungnya, aku akan dipanggil gemblong. Aku sendiri juga tidak tahu, kenapa aku di panggil dengan panggilan itu, karena itu adalah panggilan dari pamanku. Dan akhirnya menyebar hingga semua teman-temanku.

Aku adalah anak dari Hary Kusuma orang terkaya ke 3 se-Indonesia. Tapi, apakah dengan kekayaan yang berlimpah itu aku bisa dapatkan kebahagiaan? Itu salah besar. Aku yang dicap sebagai keluarga Harykusuma, harus makan di toilet? Tak pernah terbayangkan olehku, bahwa jalan hidupku akan seperti ini. Aku seorang remaja, berjuanglah terus dengan badan yang gemuk , berkulit hitam, muka berjerawat dengan rambut yang lurus sepinggang.

 Mungkin inilah sebabnya, aku sangat dibenci oleh teman-teman sekolahku. Aku bahkan adalah orang terjelek di sekolahku. Semua remaja perempuan disekolahku bisa dibilang cantik-cantik dan elite. Sebenarnya aku juga bisa saja seperti mereka. Hanya saja memang aku sudah di takdirkan dan dilahirkan denganbentuk seperti ini.  

 

 

BY : ZAHWA NUR AZIZAH

 


 

Didiy, Dodoy dan Daday

 

Didiy, Dodoy dan Daday adalah tiga sekawan, mereka murid kelas VI di SDN Suka Makmur. Rumah mereka berdekatan satu sama lain, berangkat dan pulang sekolah selalu bersama-sama. Mereka tinggal di  suatu Desa yang asri dengan udara yang sejuk. Mereka tinggal di Desa Suka Damai.

 

Meski Didiy anak pak Camat, tapi dia tidak  sombong, begitu juga dengan Dodoy dan Daday yang sama-sama anak orang terpandang di Desanya.  Di Sekolah mereka berbaur dengan teman-teman yang lain dan mereka tidak segan untuk berbagi bekal dengan teman-temannya.

 

Didiy, Dodoy dan Daday mempunyai satu teman yang sangat sombong namanya Ilut. Illut memang pintar dan  Ia sering juara kelas. Ketika semester pertama Didiy, Dodoy dan Daday ingin mengajak Ilut untuk belajar bersama, tali Ilut menolak dengan alasan Ia tidak perlu belajar dan pastinya akan tetap rangking pertama.

 

Didiy, Dodoy, Daday dan teman-teman yang lain setiap hari mereka belajar bersama, tempatnya bergantian kadang di rumah Didiy, Dodoy, Daday, Rena, Udin dan rumah teman yang lainnya, terkadang juga belajar di saung tengah sawah punya orangtuanya Daday, selama belajar mereka membawa bekal makanan masing-masing dan dimakan bersama-sama.

 

Mereka merasakan manfaat belajar bersama, ketika belajar di sekolah mereka menjadi paham dengan pelajaran yang diberikan guru. Mereka juga tidak malu untuk bertanya bila ada soal yang belum mereka pahami.

 

Ketika teman-temannya sedang sibuk belajar, Ilut memilih bermain sepak bola atau bermain layangan. Ibu Ningsih sebagai walikelasnya sudah menegur dan mengingatkan, tapi Ilut tak mengindahkan nasehat gurunya.

 

Ketika pembagian rapot tiba dan Ibu Ningsih menyebutkan 5 besar di kelasnya, Ilut merasa kecewa karena namanya tidak disebut, Dodoy, Didiy dan Daday masuk urutan lima besar.

 

Ilut terdiam dan merasa malu karena menyepelekan serta merasa bisa, ternyata soal-soalnya tidak semudah yang Ia bayangkan dan Ilut merasa kesulitan untuk mengisinya. Selama ini kesombongan telah membuat Ia lupa diri, Ia merasa pintar karena dari kelas 1 sampai kelas 5, juara pertama selalu Ia raih.

 

Ilut lengah, ketika teman-temannya belajar dengan sungguh-sungguh, Ia memilih bermain. Penyesalan selalu datang terakhir dan Ia hanya bisa terdiam ketika teman-temannya sedang merayakan kebahagian di kelasnya dengan pencapaian yang telah diraih mereka.

 

 

 

BY: HJ. APRIANI DINNI SN, S.Ag.,M.Pd.I(ADSN1919)

 

Perjuangan OrangtuaKu

 

Hai,

Perkenalkan nama saya Diah Ayu Lestari, saya akan menceritakan sedikit tentang perjuangan orangtua ku. Ibu dan Bapaku adalah harta yang sangat berharga bagiku karna tidak ada yang bisa menggantikan peran kedua orangtua ku. Aku terlahir dari 4 bersaudara. Semua kakak ku sudah mempunyai keluarga, mereka juga sudah mempunya rumah masing-masing. Jadi, dirumah ini hanya aku, Ibu, dan Bapak saja. Kami tinggal di rumah yang sederhana, rumah kami juga berada di dalam gang. Rumah ini sangat berharga bagi keluarga kami, karna semua cerita sampai detik ini terbangun dirumah ini.

Berawal dari paragraph ini saya akan menceritakan tentang keluargaku. Ayah ku seorang penjual bakso gerobak, ibu ku seorang ibu rumah tangga terkadang ibu ku membantu ayahku untuk berjualan bakso. Mereka sangat bekerja keras untuk membiayai kehidupan kami, agar kami bisa hidup layak, bisa sekolah sampai tinggi. Mereka membuat adonana bakso dari jam 4 pagi, setelah itu ayah membersihkan gerobak sebelum menatanya.

Tiba pukul 7 pagi bahan jualan sudah siap dan sudah di tata rapih di gerobak. Kemudian ayahku tanpa lelah, langgung bergegas untuk siap-siap berangkat berjualan. Ayah ku berjualan di kampus Unswagati. Setiap harinya melakukan kegiatan seperti itu, tidak lupa ibu ku juga membantu ayahku untuk mempersiapkan dagangan tersebut. Kerja keras mereka saat ini bisa di bilang terbayar. Alhamdulillah dari usaha berjualan bakso, ayah dan ibuku mampu menyelesaikan pendidikan ke 4 anaknya sampai jenjang pendidikan yang tinggi.

Kakaku yang pertama sekarang menjadi seorang TNI, ia saat ini sedang bertugas di pedalaman hutan Kalimantan berbatasan dengan Negara Malaysia. Ia juga mempunyai keluarga disana, saat ini keluarganya menetap di Kalimantan. Kakak ku yang kedua, ia seorang Guru saat ini ia tugas di Kabupaten Cirebon, tidak jauh seperti kakaku yang pertama jadi kami sering berjumpa. Kakak ku yang ketiga, ia bekerja di salah satu Bank BUMN di Cirebon, ia juga menetap di Cirebon sehingga kami masih bertemu dan berkumpul bersama-sama. Dan yang ke-empat saya sendiri, Alhamdulillah saya sekarang menjadi seorang guru di salah satu sekolah yang memang cukup dekat dengan rumah jaraknya. Sekolah itu juga mempunyai banyak cerita, karna saya salah satu Alumni dari sekolah tersebut.

Di dalam keluarga kami mempunyai kebiasaan untuk bercerita setiap harinya, jadi setiap sehabis sholat Maghrib kami semua berkumpul, bercerita tentang aktivitas yang sudah dilakukan seharian, mengobrol hal-hal kecil, sampai saat ini kebiasaan itu masih dilakukan. Orangtua ku selalu berpesan komunikasi itu penting, bagaimanapun kita harus mengetahui permasalahan satu sama lain agar bisa saling membantu bersama saudara lainnya.

Alhamdulillah, walaupun ketiga kaka ku sudah mempunyai keluarga , aku sebagai adik yang paling bungsu tidak merasa kehilangan kasih sayang kaka ku, hal itu karna kebiasaan yang orangtua ku ajarkan untuk tetap saling berkomunikasi dan bercerita.

Orang tua ku saat ini sudah memasuki usia yang tidak muda lagi, dan tidak bisa bekerja keras seperti saat dulu lagi. Kini saatnya aku dan ketiga kaka ku yang bertanggung jawab atas usaha mereka dulu untuk bisa menyekolahkan kami semua sampai bisa menjadi seperti ini. Semoga dalam cerita ini dapat menginspirasi pembaca, sehingga bisa bermanfaat untuk kita semua.

Komunikasi Itu penting, Jika Anda enggan berkomunikasi tidak akan terjadi sebuah perbincangan.

Terima Kasih

 

BY: DIAH AYU LESTARI


 

 Cerita Anak

Halaman
1

 ©2023 - Putrikaila1919. All rights reserved